Kementerian ATR/BPN Sosialisasi PP No.21 tahun 2021, Jurnalis Dilarang Meliput

SUMSELNET.COM, Palembang – Kegiatan sosialisasi kebijakan penataan ruang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 oleh Ditjen Tata Ruang Kementrian ATR/BPN di The Alts Hotel Palembang digelar tertutup. Wartawan pun dilarang untuk masuk dan meliput ke ruang sosialisasi.

Pantauan Sumselnet.com pada Rabu (21/4), sosialisasi digelar di ruang Teratai IV dan V. Pintu masuk ruang yang digunakan untuk sosialisasi dijaga oleh beberapa orang panitia pelaksana.

Read More

“Kita tidak menyediakan waktu wawancara dengan wartawan. Karena bapak Dirjen mau pulang ke Jakarta, tidak boleh wawancara door stop. Kegiatan ini tidak usah diliput. Tertutup,” kata salah seorang panitia perempuan saat Sumselnet.com mencoba masuk ke ruangan.

Panitia itu berdalih kegiatan sosialisasi kebijakan Penataan Ruang ini tidak mengundang media, dan diperuntukan khusus untuk tim publikasi dari Ditjen Tata Ruang, Kementrian ATR dan Kanwil BPN Provinsi Sumsel.

“Implementasi kebijakan ini dilaksanakan di daerah, tapi tidak usah diliput wartawan, tidak boleh wartawan wawancara,” kata dia.

Sementara itu, dari pantauan di depan pintu masuk, para peserta tampak mengabaikan protokol kesehatan. Jarak duduk antar peserta terlihat kurang dari satu meter.

Situasi itu pun diperparah saat pembagian konsumsi, para peserta terlihat saling berdesakan di meja makanan.

Terkait kegiatan sosialisasi yang digelar tertutup itu, Sumselnet.com mencoba meminta konfirmasi kepada Dirjen Tata Ruang Kementrian ATR/BPN, Abdul Kamarzuki, tapi yang bersangkutan usai acara terlihat berusaha menghindari wartawan.

Bahkan, karena tidak mau diwawancarai, Dirjen Tata Ruang bersama pejabat lainnya berusaha keluar dari tempat kegiatan dengan melalui pintu khusus belakang hotel.

Sementara itu, sejumlah wartawan mengaku kecewa terkait pelarangan wartawan untuk masuk ke ruang Sosialisasi Kebijakan Penataan Ruang tersebut.

Salah satu jurnalis dari Sentral Post, Fadel mengatakan kedatangan wartawan ke lokasi ini sia-sia.

“Percuma lah kita sudah dateng-dateng nggak bisa masuk, bagaimana masyarakat mau dapat informasi kalau enggak bisa masuk ke dalam untuk meliput. Padahal namanya sosialisasi, ganti saja namanya jadi rapat terbatas,” ujar Fadel kepada Sumselnet.com.

Sedangkan, jurnalis Minustime Rosa mengatakan, peristiwa itu sangat jelas merupakan pelecehan profesi dan menutupi informasi kepada masyarakat.

“Kami sangat menyesalkan kejadian itu,ini sudah termasuk pelecehan terhadap profesi jurnalis. Ini jelas mengancam kebebasan pers, karenan kami bekerja dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” tandasnya.

(cca/cca)

Related posts

Leave a Reply