Kepuasan Tersendiri Membagi Ilmu Pengetahuan Menulis Biografi kepada Generasi Penerus

Oleh : Dasman Djamaluddin (Penulis Biografi, Sejarawan dan Wartawan)

Buku biografi adalah buku mengenai kehidupan seseorang yang ditulis oleh orang lain. Kadang kala seorang mantan presiden atau kepala negara yang ada di sebuah negara, sering meminta bantuan penulis terkenal di negaranya yang sering kita sebut “penulis hantu,” atau “ghost writer” untuk menuliskan biografinya. Ia juga disebut penulis bayangan, yang jasanya membantu menuliskan, sangat mulia.

Generasi muda di Indonesia pun sekarang ini, terutama mahasiswa-mahasiswinya, di antaranya sering memilih bahan skripsi S1 nya tentang tokoh-tokoh militer dan pers yang dikaguminya dan kadang-kadang ada pula yang memilih bahan tentang jatuh bangunnya pers di Indonesia.

Read More

Itulah yang terjadi pada diri saya, Senin, 21 Desember 2020, ketika saya kedatangan mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Depok, Rahadiyan Dewanto di rumah saya. Memang sejak meningkatnya penularan Covid-19, saya lebih banyak melaksanakan kegiatan di kediaman saya, Kecamatan Tapos, Depok.

Judul Skripsi yang Rahadiyan Dewanto tulis berkaitan dengan peran Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin ketika masih berpangkat Mayor Jenderal dan yang lebih penting dari itu ketika Rais Abin mengemban misi UNEF II di Timur Tengah sebagai Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979, yaitu: ” Peran Mayjend TNI Rais Abin dalam Mengemban Misi UNEF II di Timur Tengah 1976-1979.”

Orang sering pula menerjemahkan UNEF sebagai Pasukan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hingga sekarang UNEF I dan UNEF II yang baru ada. Meski terjadi berbagai konflik di Timur Tengah dewasa ini, PBB menganggap belum perlu dibentuk UNEF III.

Pada bulan Februari 2018, tepatnya tanggal 20, saya menemui tujuh mahasiswa-mahasiswi S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya, Malang. Dua orang dari tujuh orang tersebut memilih judul skripsinya mengenai tokoh pers Burhanudin Mohamad (B.M) Diah yang ditulis Zuyyina Afwa, sedangkan seorang lagi yang menulis skripsinya tentang istri B.M. Diah yaitu Herawati Diah.

Ketujuh mahasiswa dan mahasiswi tersebut memang meminta kesediaan saya memilih tempat. Waktu itu virus corona belum muncul. Saya selalu meminta mereka, juga kepada siapa saja, untuk bertemu di Kampus FHUI, Depok. Selain tempatnya bisa dijangkau dari rumah, juga FHUI adalah juga almamater saya.

Di samping sebagai wartawan, saya adalah penulis biografi B.M. Diah. Pada tahun 1992, B.M. Diah meluapkan kegembiraannya dan berterima kasih kepada saya atas selesainya buku biografi “Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).

Tahun 2018 dan 2019, mahasiswi S1 dari Fakultas Ilmu Sosial, Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Malang, juga meminta informasi tentang, Herawati Diah yang diajukan mahasiswi Dina Putri.

Tahun 2019, saya ditemui mahasiswi di fakultas dan universitas yang sama dengan Dina Putri, yaitu Yulinar Indah Christanti. Ia tidak menulis tentang biografi, tetapi menulis tentang: ” Pengaruh Pemberitaan Golkar Terhadap Eksistensi Koran Suara Karya 1971-2005.” Saya selain penulis biografi, juga pernah menjadi wartawan di Majalah “Topik, ” Harian “Merdeka,” Grup “Kompas,” Harian “Pelita,” dan sudah tentu juga di Harian “Suara Karya,” yang pada tanggal 4 September 2019, mahasiswi S1, Yulinar Indah Christanti, menemui saya di FHUI, Depok.

Related posts

Leave a Reply