Berhasilkah Upaya Kemlu AS Menangkap Pemimpin ISIS ?

Oleh Dasman Djamaluddin (Historian,Editor and Journalist)

Bagai duri dalam daging, ternyata gerilyawan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) membuat repot Amerika Serikat (AS). Hal itu terlihat dari upaya Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS untuk memberi hadiah kepada siapa saja yang berhasil menangkap pemimpin baru ISIS Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi, yang sebelumnya memang sudah ditangkap.

Al-Qurashi, sekarang jadi buron, di mana AS menawarkan hadiah USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya. Ia
adalah pria yang diidentifikasi sebagai pemimpin baru ISIS setelah pemimpin sebelumnya, Abu Bakr al-Baghdadi, tewas selama operasi militer AS di Suriah tahun 2019.

Read More

Al- Qurashi ternyata dikenal sebagai mantan tahanan militer AS yang kooperatif, yang membantu Amerika dengan memberikan informasi penting tentang kelompok ISIS tersebut. Tetapi kenapa, ia harus kembali ditangkap setelah dibebaskan AS ? AS kecolongan? Tahanan yang dibebaskan AS, kemudian menjadi menjadi pemimpin baru ISIS ?

Catatan riwayat al-Qurashi sebenarnya menjadi rahasia agen rahadis AS, tetapi kemudian terungkap dari dokumen AS yang tak dipublikasikan, yang diperoleh The Washington Post . Sebelumnya, dia memang bekerja dengan AS ketika berada di penjara pada akhir tahun 2000-an untuk mengidentifikasi para petinggi kelompok ISIS.

Laporan tahun 2008 yang diperoleh oleh The Washington Post , menggunakan nama asli al-Qurashi, yakni Amir Muhammad Sa’id Abd-al-Rahman al-Mawla. “

Al-Qurashi ditahan pada akhir 2007 atau awal 2008 dengan catatan interogasi dihentikan pada Juli 2008. Dokumen tersebut tak menyebutkan kapan dia dibebaskan AS, yang sepertinya menyesal membebaskan al-Qurashi.

Namun, selama dua bulan—saat jadi tahanan AS—dia memberikan “harta karun” berupa informasi penting bagi AS, termasuk menyediakan nomor telepon 19 pejabat kelompok cikal bakal ISIS. Kelompok teroris itu sendiri secara resmi dideklarasikan oleh pemipin pertamanya, Abu Bakr al-Baghdadi, di Mosul, Irak, pada 2014.

Al-Qurashi, lanjut laporan The Washington Post, juga membantu AS untuk mengembangkan sketsa para pemimpin kelompok teroris.

Pada titik yang tidak diketahui, al-Qurashi berhenti bekerja sama, dan laporan tersebut mengatakan bahwa dia menjadi “cemas” atas statusnya. “Menunjukkan bahwa dia mengharapkan imbalan atas jumlah informasi yang dia berikan,” tulis The Washington Post .

Siapa ISIS Itu

Tanggal 8 Februari 2019, saya dikirimi sebuah video tentang situasi di Irak yang masih ada sisa-sisa gerilyawan Negara Islam di Irak (ISI). Kemudian meluas ke Suriah menjadi ISIS.

Beberapa bulan yang lalu, saya membaca buku berjudul Pedang Sang Kalifah, ISIS dan Ancaman Radikalisasi dalam Perang Saudara di Suriah dan Irak , ditulis oleh Nino Oktorino dan diterbitkan oleh PT.Elex Media Komputindo tahun 2015. Buku ini menarik untuk disimak.

Buku tentang ISIS ini ingin memperjelas cara apa yang disebut ISIS ( Islamic State of Iraq and al-Sham ) di Timur Tengah.

Informasi yang saya baca ketika berkunjung ke Irak, September 2014 lalu, ISIS ini muncul setelah Presiden Irak Saddam Hussein jatuh dan seluruh Irak diduduki oleh AS. Pendudukan Irak dan penyerangan ke Irak oleh AS dan sekutunya Inggris menyebabkan Perdana Menteri Inggris waktu itu, Tony Blair meminta maaf, karena intelijen telah melakukan kesalahan besar, ujar Blair dalam wawancara dengan pembawa acara GPS di CNN Fareed Zakaria, Minggu, 25 Oktober 2015.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana sikap George Herbert Walker Bush (sang ayah, yang baru saja meninggal dunia) dan George Walker Bush (sang anak) yang bertanggung jawab atas hancurnya Irak waktu itu?

AS terkenal dengan sikap standar ganda-nya. Dahulu Irak ini termasuk sekutu negara Paman Sam itu. Tetapi setelah Irak masuk ke Kuwait, AS marah. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) lalu memberikan sanksi kepada Irak tanggal 6 Agustus 1990 yang menghendaki agar seluruh negara impor dan ekspor barang-barang hasil produksi ke dan dari Irak dihentikan. Kecuali yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Rusia (saat itu masih disebut Uni Soviet), yang memiliki hubungan dekat dengan Irak, sehari sebelumnya masih ragu untuk keputusan DK-PBB tersebut. Akhirnya Rusia ikut setuju. Hanya Yaman dan Kuba yang abstain waktu itu.

Selain memberikan sanksi ekonomi, wilayah udara Irak pun dipersempit. Pemberlakuan Zona Larangan Terbang sepanjang garis paralel 36 di Utara dan 32 di Selatan Irak membuat Irak semakin terisolir. Hanya Yordania yang bersedia perbatasannya dengan Irak. Inilah satu-satunya jalan darat (karena melalui udara tidak diizikan lagi) ke Irak.

Berbagai persetujuan ini berlaku dengan serangan udara pasukan AS, Inggris dan Perancis ke kota Baghdad pada tanggal 17 Januari 1992. Bayangkan, serangan itu dilakukan sebanyak 750 kali.

Saya berkunjung ke Irak pada Desember 1992 atas undangan Pemerintah Irak yang waktu itu sebagai jurnalis harian Merdeka pimpinan B.M. Diah (Pemimpin Kelompok Grup Merdeka). Dalam wawancara dengan Menteri Industri dan Perlogaman Irak, Amir al-Saadi memperoleh informasi bahwa serangan tersebut telah memporak-porandakan instalasi listrik sehingga lumpuh total. Korban yang berjatuhan dari pihak Irak banyak sekali.

Di samping itu, menurut informasi dari mantan Penuntut Umum AS Ramsey Clark, yang melakukan kunjungan selama pemboman berlangsung, sekitar 125.000 sampai 300.000 penduduk Irak tewas. Apalagi ketika serangan terakhir AS dan sekutunya, yang berhasil menangkap serta menggantung Presiden Irak Saddam Hussein, jumlah yang tewas pun lebih banyak lagi.

Sulit untuk memahami standar ganda AS. Di sisi yang satu negara mengecam tindakan tidak manusiawi Presiden Irak Saddam Hussein waktu itu, tetapi di pihak lain, AS yang mengizinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan sanksi ekonomi, sehingga banyak warga Irak yang menderita bahkan meninggal dunia.

Sejauh ini, AS, tidak hanya menerapkan standar ganda kepada Irak, juga kepada Palestina. Seluruh sikap politik ini menangani kepentingan Israel. Untuk mendukung kepentingan Israel secara diam-diam sehingga sistem standar ganda AS dalam berbagai kebijakan hubungan dengan negara-negara lain sangat menguntungkan bagi dirinya (AS).

Kembali membahas buku Nino Oktorino ini, pada awal buku tersebut yang dimuat dalam Pendahuluan halaman 7, sangat jelas tergambar bagaimana hanya dengan 1.500 orang ISIS pada akhir Juni 2014 bisa mengalahkan 35.000 prajurit dan polisi Irak. Mereka menyerang, di mana para pelatihnya juga berada di Irak. Di sini mulai terasa kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di Irak, sehingga ISIS sangat mudah menguasai wilayah Mosul, ibukota provinsi Ninewah, Irak. Para pengamat mulai mempertanyakan hal ini, apakah keberadaan ISIS yang didukung oleh sebuah kekuatan?

Sekalipun memiliki ideologi, retorika dan tujuan jangka panjang yang serupa dengan al-Qaeda, bahkan pernah bersekutu, tetapi ISIS yang menyebut dirinya sebagai Daulah Islamiah, berbeda dari kelompok bentukan Osama bin Laden (halaman 8). Sangat jelas dikatakan bahwa ISIS tidak seperti kelompok-kelompok militan lainnya (halaman 9).

Buku ini memberi penjelasan bahwa ISIS tidak terlalu suka pada kejahatan, dan kekejaman. Pihak ISIS sendiri melarang penggunaan kata itu terhadap dirinya dan menjatuhkan kewenangan terhadap orang yang berani melanggarnya di wilayah kekuasaan kelompok tersebut.

Related posts

Leave a Reply